Rabu, 07 April 2010
Danau
I.I Latar Belakang
Limnologi merupakan beberapa aspek imu-ilmu yang saling berhubungan. Biokimia menghubungkan komposisi substrat dengan sifat-sifat kimia perairan, ilmu fisika mengenai konsep-konsep dan pengertian dari aspek-aspek yang penting seperti penetrasi cahaya, dinamika panas dan gerak air, biologi memberikan pengetahuan mengenai tumbuh-tumbuhan dan hewan, metabolisme, daur hidup dan kebiasaan hidupnya dan juga dikenal beberapa proses hidup dalam sintesa protoplasma.
Perairan terdiri atas perairan laut dan perairan darat. Pada perairan darat terdapat dua jenis yaitu perairan tertutup dan perairan terbuka. Pada perairan tertutup (lentik) aliran air yang masuk ke dalam perairan ini tidak pergi kemana-mana atau menetap pada daerah tersebut misalnya danau, rawa dan lain-lain. Sedangkan pada perairan terbuka (lotik) air, dapat mengalir ke mana-mana sehingga menandakan bahwa air ini dapat digunakan alat transportasi bagi sebagian masyarakat.
Salah satu perairan darat yang termasuk perairan lentik dimana keberadaannya sangat penting bagi masyarakat, misalnya sebagai tempat wisata alam, tempat budidaya ikan, sebagai sumber penyediaan air bersih, baik untuk minum, irigasi, maupun industry, sebagai tempat hidup berbagai organisme, termasuk bersifat endemik, mulai dari ikan hingga burung air.
I.2 Tujuan dan Manfaat.
Tujuan dibuatnya makalah ini ialah untuk mengetahui struktur utama pada danau, penggolongan danau dan fungsi danau..
Sedangkan manfaat dibuatnya makalah ini ialah mahasiswa dapat mengetahui struktur utama pada danau, penggolongan danau dan fungsi danau..
II. PEMBAHASAN
II.1. Pengertian Danau
Danau adalah badan air yang dikellilingi daratan dan dkelompokkan sebagai salah satu jenis lahan basah. Danau digolongkan kedalam lahan basah alami bersama hutan mangrove, rawa gambut, rawa air tawar, padang lamun, dan terumbu karang. Perairan danau cenderung diam, karena itu dinamakan juga dengan perairan lentik. P.S. Welch (1952) menyatakan bahwa agar dapat dianggap danau, suatu badan air harus memiliki tepian yang tak bervegetasi.
II.2. Struktur Dan Penggolongan Danau
A. Struktur Danau
Ada 4 macam struktur utama danau, antara lain :
a. Struktur Fisik
Unsur-unsur danau yang melibatkan pergerakan air dan distribusi panas seringkali dgunakan untuk mendeskripsikan kondisi-kondisi offshore danau. Apabila ditinjau dari struktur cekungan dalam danau, ada dua zona kedalaman yang biasa disebutkan, yaitu zona litoral dan pelagic. Zona litoral membentang dari tepian tepat di atas pengaruh gelombang sampai kedalaman dimana cahaya nyaris tidak cukup bagi pertumbuhan tumbuhan air berakar. Pada danau-danau yang dalam, areal di luar pengaruh tepian atau dasar disebut sebagai zona limnetik. Bagian danau yang jauh dari daerah tepian secara garis besar dibagi menjadi dua berdasarkan tingkat cahaya.
Bagian yang memperoleh cukup cahaya disebut sebagai zona fotik. Zona tersebut membentang dari permuaan danau sampai kedalaman di mana cahaya kira-kira 1 % dari cahaya yang ada di permukaan. Zona afotik membentang di bawah zona litoral dan fotik sampai kedasar danau. Zona ini merupakan daerah konsumsi oksigen. Pada daerah-daerah bersuhu sedang, dapat ditemukan tiga zona vertikal danau ketika terjadi stratifikasi termal. Air dibagian atas yang lebih hangat dan bersirkulasi disebut epilimnion. Bagian tengah dimana terjadi laju perubahan suhu paling besar (termoklin) iakah metalimnion dan bagian paling dalam yang dingin dan sedikit sirkulasinya disebut hipolimnion.
b. Struktur Kimiawi
Distribusi zat-zat kmiawi terutama nutrient dalam air danau merupakan unsure utama kedua struktur danau. Terkadang, nutrient tertumpuk pada daerah hipolimnion atau zona afotik, sementara epilimnion atau zona fotik kehabisan nutrient. Kedalaman dimana terjadi perubahan zat secara cepat disebut kemoklin. Kemoklin merupakan cirri tetap pada beberapa danau, tapi, stratifikasi biasanya lebih ditentukan oleh distribusi suhu dan kerapatan. Stratifikasi vertikal unsur-unsur kimiawi biasanya kecil pada ona litoral yang tercampur baik. Komponen vertical struktur kimiawi danau umumnya bersifat musiman dan bergantung pada keberadaan lapisan air yang terstabilisasi oleh kerapatana. Komponen horizontal dapat berlangsung sepanjang tahun dan dipengaruhi oleh tepian danau.
c. Struktur Bologis
Unsur utama ketiga struktur danau adalah struktur biologis. Sebagian organisme hidup berpndah-pindah zona danau selaa hidupnya, akan tetapi sebagian besar dapat diklasifikasikan berdasarkan habitatnya yang paling penting. Organisme yang hidup didanau meliputi plankton, fungi, virus, nekton, neuston (hidup di permukaan air), pleuston (mengapung dan terombang ambing oleh air), makrofit akuatik, perifiton, alga yang melekat, bentos, epibentos, infauna dan psammon (hidup di pasir). Selain itu ada pula yang disebut aufwuchs, yaitu keseluruhan komunitas organisme mikroskopik melekat yang terdiri atas alga, bakteri, fungi, protozoa, dan metazoan kecil.
d. Struktur Watershed
Watershed sama pentingnya dengan unsure-unsur fisik, kimiawi, dan biologis suatu danau. Ukuran, kemiringan, komposisi geologis, dan iklim cekungan drainage suatu danau mempengaruhi identitas dan kuantitas mineral-mineral yang terlarut dalam danau dan sedimen-sedimen yang menumpuk di situ. Perbandingan ukuran area drainage dengan luas permukaan sangatlah penting pada banyak danau karena danau yang area drainage lebih besar biasanya memilliki tingkat kesuburan yang lebih tinggi.
Iklim umum watershed mempengaruhi tanspor sedimen dan nutrient. Misalnya saja pola hujan suatu daerah mempengaruhi erosi dan kemudahan pergerakan sedimen dari watershed ke danau. Misalnya saja pada nitrogen. Nitrogen dalam bentuk nitrat sangat terlarut mudah ditranspor oleh air jernih maupun berlumpur. Nitrat paling mudah berpindah dari tanah ke air di zona-zona beriklim sedang yang tinggi curah hujannya. Selain itu, iklim juga mempengaruhi ada tidaknya aliran keluar. Danau-danau air tawar tanpa aliran keluar biasanya akan menjadi danau garam melalui evaporasi, dan bahkan bisa mongering sepenuhnya.
Selain sumber-sumber lamiah zat-zat kimiawi dari sedimen atau erosi dan penggelontoran watershed, adapula sumber-sumber dari pertanian, hutan, dan perkotaan. Sumber-sumber tersebut tak hanya morfometri cekungan danau, melainkan jjuga memodifikasi lingkungan kimiawi danau. Danau yang terletak di dataran tinggi dan rendah berbeda dalam beberapa hal. Umumnya, danau di dataran rendah lebih tenang, tidak begitu berbatu-batu atau lebih banyak mengandung endapan, dasarnya tidak begitu curam, dan biasanya lebih banyak mengandung tumbuhan.
B. Penggolongan Danau
a. Berdasarkan proses terbentuknya, danau dibedakan menjadi :
1. Danau vulkanis : danau yang terbentuk akibat proses pergerakan vulkanis. Danau seperti ini sering disebut danau kaldera atau danau maar.
2. Danau tektonis : danau yang terbentuk karena pergerakan tektonis kerak bumi yag menyebabkan terbentuknya cekungan yang dapat terisi oleh air .
3. Danau dapat terbentuk sebagai akibat glasier yang telah bergerak mundurdari posisi sebelumnya.
4. Danau dapat tebentuk akibat longsor atau terbentuknya halangan akibat aktifitas glasial.
5. Danau tapal kudaatau danau mati dapat terbentuk dilembah-lembah sungai akibat proses meandering.
b. Berdasarkan kekayaan unsur haranya (nutrien), danau digolongkan sebagai berikut :
1. Danau oligotrofik : danau yang memiliki konsentrasi kehidupan tumbuhannya rendah. Air danau biasanya jernih.
2. Danau mesotrofik : danau yang airnya cukup jernih dan kandungan nutriennya sedang.
3. Danau eutrofik : danau yang kaya akan nutrien sehingga tumbuhan tumbuh dengan baik dan kemungkinan terjadi ledakan populasi alga (alga bloom).
4. Danau hipertrofik adalah danau yang telah mengalami pengayaan nutrien dalam tingkat yang sangat hebat. Air danau ini kurang jernih dan seringkali terjadi alga bloom.
1. Fungsi Danau
Danau memiliki fungsi ekonomi yang sagat penting. Salah satu fungsi tersebut ialah perikanan , baik budidaya maupun perikanan tangkap. Selain itu, danau juga memiliki fungsi jika ditinjau dari sisi tata air (antara lain mencegah kekeringan dan banjir) dan dalam kaitannya dengan penyediaan air bersih, baik untuk minum, irigasi, maupun industri. Dengan demikian, danau memiliki fungsi sebagai penyangga kehidupan. Jika ditinjau dari segi ekosistem, danau merupakan tempat hidup berbagai organisme, termasuk bersifat endemik, mulai dari ikan hingga burung air. Tidak hanya penting bagi plasma nutfah dan konservasi alam, danau juga dapat dijadikan sebagai tempat wisata. Pemanfaatan danau sebagai objek wisata dapat memicu ekonomi masyarakat sekitar. Akan tetapi, pemanfaatan danau sebaiknya dilaksanakan dengan pengelolaan yang baik dan terkendali. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada danau.
III. PENUTUP
III.1. Kesimpulan
Danau adalah badan air yang dikellilingi daratan dan dkelompokkan sebagai salah satu jenis lahan basah. Danau sangat dipengaruhi oleh beberapa struktur didalamnya, antara lain ialah struktur fisika, kimiawi, biologis dan struktur watershed.
Beradasarkan proses terjadinya, danau dibedakan menjadi Danau Vulkanis, Danau Tektonik, Danau Glasier, Danau Tapal Kuda, dan Danau Karst. Berdasarkan kekayaan nutriennya, danau dapat digolongkan menjadi oligotrofik, mesotrofik, eutrofik dan hipertrofik.
Danau memiliki fungsi ekonomi yang sagat penting. Salah satu fungsi tersebut ialah perikanan, baik budidaya maupun perikanan tangkap. Selain itu, danau juga memiliki fungsi jika ditinjau dari sisi tata air (antara lain mencegah kekeringan dan banjir) dan dalam kaitannya dengan penyediaan air bersih, baik untuk minum, irigasi, maupun industri dan dapat pula dijadikan sebagai objek wisata.
Selasa, 16 Maret 2010
budidaya ikan kerapu
Kepadatan optimum untuk fase pendederan adalah 150-200 ekor/m3 dengan rata-rata panjang ikan 9-12 cm dan berat 15-25 g. Setelah dibesarkan selama 1-1,5 bulan, kepadatannya dikurangi menjadi 100 ekor/m3. Kepadatan ini harus dipertahankan hingga masa pembesaran 2 bulan, selanjutnya kepadatan menjadi 20-25 ekor/m3 dipertahankan selama 4 bulan hingga ikan mencapai ukuran konsumsi (400-500 g).
Umumnya, pakan yang diberikan untuk ikan kerapu ialah ikan rucah segar karena harganya relatif murah, bisa juga pakan buatan berupa pellet sebagai pengganti ikan rucah. Pada tahap awal pembesaran, pemberian pakan dilakukan sesering mungkin sampai ikan benar-benar kenyang, minimal tiga kali sehari. Tahap berikutnya waktu dan frekwensi pemberian pakan harus tepat agar pertumbuhan baik dan penggunaan pakan menjadi efisien, karena berkaitan dengan pencernaan dan pemakaian energi. Sebaiknya pemberian pakan 2 kali sehari pada saat pagi dan sore hari. Pakan ikan segar harus dicacah hingga ukurannya sesuai dengan bukaan mulut ikan.
Selain pakan, ikan juga harus diberi multivitamin. Pemberian multivitamin dapat menambah kekebalan tubuh ikan sehingga ikan dapat tumbuh secara normal. Di samping itu dapat mencegah terjadinya lordosis dan scoliosis atau tubuh bengkok karena perkembangan tulang belakang yang tidak sempurna. Manfaat lain adalah dapat meningkatkan sintasan ikan, atau menurunkan tingkat kematian, berpengaruh terhadap kinerja ikan, warna tubuh menjadi lebih cerah dan agresif.
Untuk menentukan dosis pakan, perlu dilakukan pengukuran berat dan panjang ikan dengan dara sampling (acak) sebanyak 10% minimal sebulan sekali. Laju pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh jenis pakan, jumlah yang diberikan dan mutu pakan. Pertambahan berat kerapu bebek relatif lebih lambat dibanding kerapu macan hal ini dimungkinkan karena secara genetik memang lambat tumbuh.
Kerapu termasuk ikan buas dan memiliki sifat kanibal. Oleh sebab itu kegiatan pemilahan atau penyeragaman ukuran harus secara rutin dilakukan agar setiap waring/jaring hanya diisi ikan yang berukuran sama, bila ada perbedaan ukuran maka ikan yang lebih kecil akan kalah bersaing dengan ikan yang lebih besar dalam memperoleh makanan, hal ini bisa menyebabkan banyak kematian. Penyeragaman ukuran dilakukan mulai dari awal pembesaran dan selanjutnya diteruskan minimal setiap dua minggu sekali, terutama kalau terdapat variasi ukuran.
Pengamatan kesehatan ikan perlu dilakukan secara visual dan organoleptik untuk mengamati ektoparasit dan morfologi ikan. Sedangkan pengamatan secara mikroskopik dilakukan di laboratorium untuk pemeriksaan jasad patogen (endo perasit, jamur, bakteri dan virus). Cara pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, amonium sulfat, nitrit, nitrat, chlorin, dsb) dilakukan dengan menggunakan termometer untuk suhu, refractometer untuk mengukur salinitas, pH meter atau kertas lakmus untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut dan water quality test kit untuk mengukur kualitas air lainnya disesuaikan dengan petunjuk kerja dari masing-masing alat yang digunakan. Frekuensi pengukuran dilakukan minimal dua kali seminggu.