iLLoNk

Kamis, 06 Februari 2014

REHABILITASI EKOSISTEM MANGROVE
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.  Berdasarkan statusnya tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki potensi sumber daya pesisir dan lautan sangat besar.  Potensi tersebut tersebar di seluruh ekosistem pesisir dan lautnya.  Ekosistem pesisir yang menjadi salah satu daerah dengan sumber daya alam melimpah tersebut adalah ekosistem mangrove.
Ekosistem mangrove merupakan suatu formasi hutan yang mampu tumbuh dan berkembang di daerah tropik dan subtropik pada lingkungan pesisir dan merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat potensial.  Jika pelaksanaan pengelolaannya dilakukan dengan tidak bijaksana, keberadaan ekosistem mangrove dengan nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi ini akan sulit dipertahankan.  Hal ini dapat terjadi karena ekosistem mangrove memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh adanya kegiatan manusia.
Nah, tau tidak seperti apa kondisi ekosistem mangrove yang ada di Indonesia saat ini?.  Menurut Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) tahun 1999 luas hutan mangrove Indonesia adalah 8,6 juta ha yang terdiri atas 3,8 juta ha terdapat di kawasan hutan dan 4,8 juta ha terdapat di luar kawasan hutan.  Sementara itu, berdasarkan kondisinya diperkirakan bahwa 1,7 juta ha (44,73 %) di dalam kawasan hutan dan 4,2 juta ha (87,50 %) hutan mangrove di luar kawasan hutan dalam keadaan rusak (Saparinto, 2007).
Kondisis tersebut sangatlah memprihatinkan. Meskipun data tersebut adalah data tahun 1999, namun dengan makin pesatnya peningkatan pembangunan di Indonesia. rasanya tidak sulit untuk membayangkan kondisi ekosistem mangrove di Indonesia saat ini. Untuk melindungi kelestarian dari ekosistem mangrove, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah REHABILITASI ekosistem mangrove. Apasih rehabilitasi itu?.
Menurut Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P. 39/Menhut-ii/2010 Tentang Pola Umum, Kriteria, dan Standar Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, Rehabilitasi hutan dan lahan adalah upaya untuk mengembalikan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga. Menurut Bengen (1999) Rehabilitasi hutan mangrove adalah upaya mengembalikan fungsi hutan mangrove yang mengalami degradasi kepada kondisi yang dianggap baik dan mampu mengemban fungsi ekologis dan ekonomis. Berbagai kegiatan penghijauan yang dilakukan terhadap hutan-hutan yang gundul merupakan salah satu upaya rehabilitasi yang bertujuan bukan saja untuk mengembalikan nilai estetika, namun yang paling utama adalah untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan hutan mangrove tersebut.  Kegiatan rehabilitasi ini telah menjadi salah satu andalan di beberapa kawasan hutan mangrove yang telah ditebas dan dialihkan fungsinya kepada kegiatan lain.
Dalam kegiatan rehabilitasi, diperlukan suatu sistem pengelolaan yang baik agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dan mampu memberi manfaat secara optimal.  Banyak hal yang mesti dilakukan agar resiko kegagalan dalam kegiatan rehabilitasi dapat diminimalkan.  Oleh sebab itu, Kustanti (2011) mengemukakan bahwa dalam suatu kegiatan rehabilitasi diperlukan perencanaan yang tepat dari awal persiapan tanam sampai dengan pemeliharaan, monitoring dan evaluasi.  Perencanaan yang dilakukan adalah meliputi  luas lahan yang akan ditanam, jenis-jenis bibit yang diperlukan, jumlah dan kualitas bibit, pengangkutan, persiapan lapangan, persiapan bahan penanda tanaman, persiapan tenaga kerja, jadwal penanaman, pemeliharaan, monitoring dan evaluasi.
Beralih ke masalah penanaman, terdapat beberapa cara penanaman mangrove khususnya dalam kegiatan rehabilitasi yaitu penanaman yang dilakukan secara langsung maupun menggunakan anakan baik anakan yang berasal dari persemaian ataupun anakan yang berasal dari alam. Menurut Kustanti (2011), penanaman mangrove dapat dilakukan secara langsung dimana jenis-jenis pohon yang biasa ditanam dengan cara ini merupakan jenis dari api-api (Avicennia marina) dan dari jenis Rhizophoraceae  (Rhizophora apiculata dan R. mucronata).  Penanaman secara langsung ini memiliki beberapa keuntungan dan kelemahan. Kusmana dkk., (2003), mengemukakan bahwa penanaman mangrove secara langsung memiliki keuntungan seperti penanganannya yang lebih mudah karena propagul lebih ringan dan sederhana bentuknya; biaya penanamannya relativ murah karena tidak memerlukan biaya persemaian serta dapat dilakukan dalam waktu yang relativ singkat.  Namun, penanaman menggunakan cara ini memiliki kelemahan yaitu kegiatan penanaman hanya terbatas pada waktu musim berbuah masak dan propagul relativ lebih mudah diganggu oleh kepiting dan teritip.  
Selain penanaman secara langsung, mangrove dalam kegiatan rehabilitasi juga dapat ditanam dengan cara menggunakan anakan baik anakan yang berasal dari persemaian maupun anakan yang berasal dari alam.  Kusmana dkk., (2003) menyatakankan bahwa penanaman menggunakan anakan yang berasal dari persemaian merupakan sebuah cara yang efektif dalam mengatasi masalah pemangsaan oleh kepiting, kera, maupun gangguan dari tumbuhan pakis Acrosticum (sebagai gulma).  Jenis-jenis mangrove yang ditumbuhkan di persemaian biasanya mempunyai propagul pendek atau berupa biji. Keuntungan penanaman menggunakan anakan yang berasal dari persemaian ini antara lain yaitu lebih fleksibel dari segi jadwal penanaman, kualitas bahan tanaman lebih mudah untuk diseragamkan, peluang keberhasilannya lebih besar, pertumbuhannya lebih cepat serta cukup tahan terhadap gangguan hama.
Selanjutnya, Kusmana dkk., (2003) juga menjelaskan lebih lanjut bahwa selain penanaman secara langsung dan menggunakan anakan dari persemaian, penanaman mangrove juga dapat dilakukan dengan menggunakan anakan yang berasal dari alam.  Penggunaan anakan yang berasal dari alam mempunyai keunggulan antara lain yaitu lebih efektif dalam mengatasi faktor perusak seperti gangguan kepiting, monyet dan jenis paku (Acrosticum sp.).  Selain itu, penggunaan bibit dari alam ini lebih efisien dari segi biaya dibandingkan dengan menggunakan anakan yang berasal dari persemaian. Akan tetapi, penggunaan anakan dari alam ini lebih mahal dan hanya direkomendasikan pada beberapa tempat saja.
Dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi atau penanaman mangrove, ada dua sistem penanaman yang sering digunakan.  Menurut Kusmana dkk., (2003), dua sistem penanaman yang sering digunakan tersebut adalah sistem banjar harian dan sistem tumpang sari atau yang lebih sering disebut dengan sistem wanamina (sylvofishery).  Sistem penanaman banjar harian merupakan sistem penanaman dimana benih atau bibit ditanam secara tegak.  Pada penanaman menggunakan benih, penanaman dilakukan dengan menghadapkan benih ke arah atas dengan kedalaman kurang lebih sepertiga dari panjang benih.  Adapun penanaman dengan menggunakan bibit, bibit ditanam secara tegak ke dalam lubang yang telah disiapkan dengan melepaskan kantong plastik atau botol air mineral bekas secara hati-hati agar tidak merusak akarnya. 
Pada penanaman mangrove dengan sistem wana mina (sylvofishery), prinsip penanaman benih atau bibit yang ada tidak memiliki perbedaan dengan sistem penanaman banjar harian.  Akan tetapi, sistem wana mina mnggunakan tambak/kolam  dan saluran air untuk membudidayakan ikan.  Sehingga, terdapat perpaduan antara tanaman mangrove (wana) dan budi daya sumber daya ikan (mina).  Secara umum, terdapat tiga pola dalam sistem  wana mina.  Ketiga pola tersebut antara lain adalah wanamina dengan pola empang parit dimana lahan untuk hutan mangrove dan empang masih menjadi satu hamparan yang diatur oleh satu pintu air; wanamina dengan pola empang parit yang disempurnakan dimana hutan mangrove dan empang diatur oleh saluran air yang terpisah; dan wana mina dengan pola komplangan dimana lahan untuk hutan mangrove dan empang terpisah dalam dua hamparan yang diatur oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah untuk hutan mangrove dan empang (Kustanti, 2011).
Penanaman mangrove dapat dilakukan dengan jarak tanam yang tergantung pada tujuan penanaman.  Kustanti (2011) menyatakan bahwa bilapenanaman mangrove dilakukan dengan tujuan untuk perlindungan pantai, bibit atau benih dapat ditanam pada jarak 1x1 m.  Tetapi jika untuk produksi, bibit atau benih mangrove dapat ditanam dalam jarak 2x2 m.  adapun pemilihan jenis tanaman yang akan ditanam, dapat disesuaikan dengan zonasi ataupun tujuan dari penanaman mangrove di lokasi tersebut.  Bilapenanaman mangrove dilakukan untuk penahan abrasi,  jenis pohon yang dapat ditanam adalah mangrove dari jenis Rhizophora spp.  Namun bila penanaman mangrove bertujuan untuk penghijauan, maka penanaman dapat dilakukan dengan memilih mangrove dari jenis Api-api (Avicennia spp.).
Bengen (1999) menyatakan bahwa pelestarian hutan mangrove merupakan suatu usaha yang sangat kompleks untuk dilaksanakan, karena kegiatan tersebut sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap segenap pihak baik yang berada di sekitar kawasan maupun di luar kawasan.  Pada dasarnya kegiatan ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan dari berbagai kepentingan.  Namun demikian, sifat akomodatif ini akan lebih dirasakan manfaatnya jika keberpihakan dengan porsi yang lebih besar diberikan kepada masyarakat yang sangat rentan terhadap sumber daya mangrove.  Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat sebagai komponen utama penggerak pelestarian hutan mangrove.  Oleh karena itu, persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan mangrove perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masyarakat akan pentingnya sumber daya hutan mangrove.
REFRENSI
Bengen, D.G. 1999. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat  Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL).
Kusmana, C., S. Wilarso, I. Hilwan, P. Pamoengkas, C. Wibowo, T. Tiryana, A. Triswanto, Yunasfi, Hamzah, 2003. Teknik Rehabilitasi Mangrove. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. 177 Hal.
Kustanti, A., 2011. Manajemen Hutan Mangrove. IPB Press. Bogor. 348 hal.
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P. 39/Menhut-ii/2010 Tentang Pola Umum, Kriteria, dan Standar Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, Rehabilitasi hutan dan lahan.
Saparinto, C. 2007. Pendayagunaan Ekosistem Mangrove. Dahara prize. Semarang. 236 hal.



*Perhatian : Bacaan ini adalah tulisan dari beberapa ahli yang kemudian dikumpulkan dan dikemas menjadi suatu pembahasan singkat mengenai REHABILITASI khususnya pada ekosistem mangrove.

Rabu, 07 April 2010

Danau

I. PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Limnologi merupakan beberapa aspek imu-ilmu yang saling berhubungan. Biokimia menghubungkan komposisi substrat dengan sifat-sifat kimia perairan, ilmu fisika mengenai konsep-konsep dan pengertian dari aspek-aspek yang penting seperti penetrasi cahaya, dinamika panas dan gerak air, biologi memberikan pengetahuan mengenai tumbuh-tumbuhan dan hewan, metabolisme, daur hidup dan kebiasaan hidupnya dan juga dikenal beberapa proses hidup dalam sintesa protoplasma.
Perairan terdiri atas perairan laut dan perairan darat. Pada perairan darat terdapat dua jenis yaitu perairan tertutup dan perairan terbuka. Pada perairan tertutup (lentik) aliran air yang masuk ke dalam perairan ini tidak pergi kemana-mana atau menetap pada daerah tersebut misalnya danau, rawa dan lain-lain. Sedangkan pada perairan terbuka (lotik) air, dapat mengalir ke mana-mana sehingga menandakan bahwa air ini dapat digunakan alat transportasi bagi sebagian masyarakat.
Salah satu perairan darat yang termasuk perairan lentik dimana keberadaannya sangat penting bagi masyarakat, misalnya sebagai tempat wisata alam, tempat budidaya ikan, sebagai sumber penyediaan air bersih, baik untuk minum, irigasi, maupun industry, sebagai tempat hidup berbagai organisme, termasuk bersifat endemik, mulai dari ikan hingga burung air.

I.2 Tujuan dan Manfaat.
Tujuan dibuatnya makalah ini ialah untuk mengetahui struktur utama pada danau, penggolongan danau dan fungsi danau..
Sedangkan manfaat dibuatnya makalah ini ialah mahasiswa dapat mengetahui struktur utama pada danau, penggolongan danau dan fungsi danau..

II. PEMBAHASAN
II.1. Pengertian Danau
Danau adalah badan air yang dikellilingi daratan dan dkelompokkan sebagai salah satu jenis lahan basah. Danau digolongkan kedalam lahan basah alami bersama hutan mangrove, rawa gambut, rawa air tawar, padang lamun, dan terumbu karang. Perairan danau cenderung diam, karena itu dinamakan juga dengan perairan lentik. P.S. Welch (1952) menyatakan bahwa agar dapat dianggap danau, suatu badan air harus memiliki tepian yang tak bervegetasi.
II.2. Struktur Dan Penggolongan Danau
A. Struktur Danau
Ada 4 macam struktur utama danau, antara lain :
a. Struktur Fisik
Unsur-unsur danau yang melibatkan pergerakan air dan distribusi panas seringkali dgunakan untuk mendeskripsikan kondisi-kondisi offshore danau. Apabila ditinjau dari struktur cekungan dalam danau, ada dua zona kedalaman yang biasa disebutkan, yaitu zona litoral dan pelagic. Zona litoral membentang dari tepian tepat di atas pengaruh gelombang sampai kedalaman dimana cahaya nyaris tidak cukup bagi pertumbuhan tumbuhan air berakar. Pada danau-danau yang dalam, areal di luar pengaruh tepian atau dasar disebut sebagai zona limnetik. Bagian danau yang jauh dari daerah tepian secara garis besar dibagi menjadi dua berdasarkan tingkat cahaya.
Bagian yang memperoleh cukup cahaya disebut sebagai zona fotik. Zona tersebut membentang dari permuaan danau sampai kedalaman di mana cahaya kira-kira 1 % dari cahaya yang ada di permukaan. Zona afotik membentang di bawah zona litoral dan fotik sampai kedasar danau. Zona ini merupakan daerah konsumsi oksigen. Pada daerah-daerah bersuhu sedang, dapat ditemukan tiga zona vertikal danau ketika terjadi stratifikasi termal. Air dibagian atas yang lebih hangat dan bersirkulasi disebut epilimnion. Bagian tengah dimana terjadi laju perubahan suhu paling besar (termoklin) iakah metalimnion dan bagian paling dalam yang dingin dan sedikit sirkulasinya disebut hipolimnion.
b. Struktur Kimiawi
Distribusi zat-zat kmiawi terutama nutrient dalam air danau merupakan unsure utama kedua struktur danau. Terkadang, nutrient tertumpuk pada daerah hipolimnion atau zona afotik, sementara epilimnion atau zona fotik kehabisan nutrient. Kedalaman dimana terjadi perubahan zat secara cepat disebut kemoklin. Kemoklin merupakan cirri tetap pada beberapa danau, tapi, stratifikasi biasanya lebih ditentukan oleh distribusi suhu dan kerapatan. Stratifikasi vertikal unsur-unsur kimiawi biasanya kecil pada ona litoral yang tercampur baik. Komponen vertical struktur kimiawi danau umumnya bersifat musiman dan bergantung pada keberadaan lapisan air yang terstabilisasi oleh kerapatana. Komponen horizontal dapat berlangsung sepanjang tahun dan dipengaruhi oleh tepian danau.

c. Struktur Bologis
Unsur utama ketiga struktur danau adalah struktur biologis. Sebagian organisme hidup berpndah-pindah zona danau selaa hidupnya, akan tetapi sebagian besar dapat diklasifikasikan berdasarkan habitatnya yang paling penting. Organisme yang hidup didanau meliputi plankton, fungi, virus, nekton, neuston (hidup di permukaan air), pleuston (mengapung dan terombang ambing oleh air), makrofit akuatik, perifiton, alga yang melekat, bentos, epibentos, infauna dan psammon (hidup di pasir). Selain itu ada pula yang disebut aufwuchs, yaitu keseluruhan komunitas organisme mikroskopik melekat yang terdiri atas alga, bakteri, fungi, protozoa, dan metazoan kecil.
d. Struktur Watershed
Watershed sama pentingnya dengan unsure-unsur fisik, kimiawi, dan biologis suatu danau. Ukuran, kemiringan, komposisi geologis, dan iklim cekungan drainage suatu danau mempengaruhi identitas dan kuantitas mineral-mineral yang terlarut dalam danau dan sedimen-sedimen yang menumpuk di situ. Perbandingan ukuran area drainage dengan luas permukaan sangatlah penting pada banyak danau karena danau yang area drainage lebih besar biasanya memilliki tingkat kesuburan yang lebih tinggi.
Iklim umum watershed mempengaruhi tanspor sedimen dan nutrient. Misalnya saja pola hujan suatu daerah mempengaruhi erosi dan kemudahan pergerakan sedimen dari watershed ke danau. Misalnya saja pada nitrogen. Nitrogen dalam bentuk nitrat sangat terlarut mudah ditranspor oleh air jernih maupun berlumpur. Nitrat paling mudah berpindah dari tanah ke air di zona-zona beriklim sedang yang tinggi curah hujannya. Selain itu, iklim juga mempengaruhi ada tidaknya aliran keluar. Danau-danau air tawar tanpa aliran keluar biasanya akan menjadi danau garam melalui evaporasi, dan bahkan bisa mongering sepenuhnya.
Selain sumber-sumber lamiah zat-zat kimiawi dari sedimen atau erosi dan penggelontoran watershed, adapula sumber-sumber dari pertanian, hutan, dan perkotaan. Sumber-sumber tersebut tak hanya morfometri cekungan danau, melainkan jjuga memodifikasi lingkungan kimiawi danau. Danau yang terletak di dataran tinggi dan rendah berbeda dalam beberapa hal. Umumnya, danau di dataran rendah lebih tenang, tidak begitu berbatu-batu atau lebih banyak mengandung endapan, dasarnya tidak begitu curam, dan biasanya lebih banyak mengandung tumbuhan.
B. Penggolongan Danau
a. Berdasarkan proses terbentuknya, danau dibedakan menjadi :
1. Danau vulkanis : danau yang terbentuk akibat proses pergerakan vulkanis. Danau seperti ini sering disebut danau kaldera atau danau maar.
2. Danau tektonis : danau yang terbentuk karena pergerakan tektonis kerak bumi yag menyebabkan terbentuknya cekungan yang dapat terisi oleh air .
3. Danau dapat terbentuk sebagai akibat glasier yang telah bergerak mundurdari posisi sebelumnya.
4. Danau dapat tebentuk akibat longsor atau terbentuknya halangan akibat aktifitas glasial.
5. Danau tapal kudaatau danau mati dapat terbentuk dilembah-lembah sungai akibat proses meandering.
b. Berdasarkan kekayaan unsur haranya (nutrien), danau digolongkan sebagai berikut :
1. Danau oligotrofik : danau yang memiliki konsentrasi kehidupan tumbuhannya rendah. Air danau biasanya jernih.
2. Danau mesotrofik : danau yang airnya cukup jernih dan kandungan nutriennya sedang.
3. Danau eutrofik : danau yang kaya akan nutrien sehingga tumbuhan tumbuh dengan baik dan kemungkinan terjadi ledakan populasi alga (alga bloom).
4. Danau hipertrofik adalah danau yang telah mengalami pengayaan nutrien dalam tingkat yang sangat hebat. Air danau ini kurang jernih dan seringkali terjadi alga bloom.
1. Fungsi Danau
Danau memiliki fungsi ekonomi yang sagat penting. Salah satu fungsi tersebut ialah perikanan , baik budidaya maupun perikanan tangkap. Selain itu, danau juga memiliki fungsi jika ditinjau dari sisi tata air (antara lain mencegah kekeringan dan banjir) dan dalam kaitannya dengan penyediaan air bersih, baik untuk minum, irigasi, maupun industri. Dengan demikian, danau memiliki fungsi sebagai penyangga kehidupan. Jika ditinjau dari segi ekosistem, danau merupakan tempat hidup berbagai organisme, termasuk bersifat endemik, mulai dari ikan hingga burung air. Tidak hanya penting bagi plasma nutfah dan konservasi alam, danau juga dapat dijadikan sebagai tempat wisata. Pemanfaatan danau sebagai objek wisata dapat memicu ekonomi masyarakat sekitar. Akan tetapi, pemanfaatan danau sebaiknya dilaksanakan dengan pengelolaan yang baik dan terkendali. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada danau.

III. PENUTUP
III.1. Kesimpulan
Danau adalah badan air yang dikellilingi daratan dan dkelompokkan sebagai salah satu jenis lahan basah. Danau sangat dipengaruhi oleh beberapa struktur didalamnya, antara lain ialah struktur fisika, kimiawi, biologis dan struktur watershed.
Beradasarkan proses terjadinya, danau dibedakan menjadi Danau Vulkanis, Danau Tektonik, Danau Glasier, Danau Tapal Kuda, dan Danau Karst. Berdasarkan kekayaan nutriennya, danau dapat digolongkan menjadi oligotrofik, mesotrofik, eutrofik dan hipertrofik.
Danau memiliki fungsi ekonomi yang sagat penting. Salah satu fungsi tersebut ialah perikanan, baik budidaya maupun perikanan tangkap. Selain itu, danau juga memiliki fungsi jika ditinjau dari sisi tata air (antara lain mencegah kekeringan dan banjir) dan dalam kaitannya dengan penyediaan air bersih, baik untuk minum, irigasi, maupun industri dan dapat pula dijadikan sebagai objek wisata.

Selasa, 16 Maret 2010

budidaya ikan kerapu

TEKNIK BUDIDAYA IKAN KERAPU
Mungkin ini dapat membantu anda dalam memperoleh sedikit informasi mengenai budidaya ikan kerapu. Seperti yang kita ketahui, ketersediaan benih dari tangkapan sangat terbatas. Sehingga lebih baik menggunakan benih yang berasal dari pembenihan. Selain jumlahnya banyak, ukuran relatif seragam serta kualitas dan kontinuitas terjamin. Benih yang sehat tampak dari warnanya cerah, geraknya lincah dan aktif, nafsu makannya tinggi serta tidak ada cacat tubuh.

Kepadatan optimum untuk fase pendederan adalah 150-200 ekor/m3 dengan rata-rata panjang ikan 9-12 cm dan berat 15-25 g. Setelah dibesarkan selama 1-1,5 bulan, kepadatannya dikurangi menjadi 100 ekor/m3. Kepadatan ini harus dipertahankan hingga masa pembesaran 2 bulan, selanjutnya kepadatan menjadi 20-25 ekor/m3 dipertahankan selama 4 bulan hingga ikan mencapai ukuran konsumsi (400-500 g).

Umumnya, pakan yang diberikan untuk ikan kerapu ialah ikan rucah segar karena harganya relatif murah, bisa juga pakan buatan berupa pellet sebagai pengganti ikan rucah. Pada tahap awal pembesaran, pemberian pakan dilakukan sesering mungkin sampai ikan benar-benar kenyang, minimal tiga kali sehari. Tahap berikutnya waktu dan frekwensi pemberian pakan harus tepat agar pertumbuhan baik dan penggunaan pakan menjadi efisien, karena berkaitan dengan pencernaan dan pemakaian energi. Sebaiknya pemberian pakan 2 kali sehari pada saat pagi dan sore hari. Pakan ikan segar harus dicacah hingga ukurannya sesuai dengan bukaan mulut ikan.

Selain pakan, ikan juga harus diberi multivitamin. Pemberian multivitamin dapat menambah kekebalan tubuh ikan sehingga ikan dapat tumbuh secara normal. Di samping itu dapat mencegah terjadinya lordosis dan scoliosis atau tubuh bengkok karena perkembangan tulang belakang yang tidak sempurna. Manfaat lain adalah dapat meningkatkan sintasan ikan, atau menurunkan tingkat kematian, berpengaruh terhadap kinerja ikan, warna tubuh menjadi lebih cerah dan agresif.

Untuk menentukan dosis pakan, perlu dilakukan pengukuran berat dan panjang ikan dengan dara sampling (acak) sebanyak 10% minimal sebulan sekali. Laju pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh jenis pakan, jumlah yang diberikan dan mutu pakan. Pertambahan berat kerapu bebek relatif lebih lambat dibanding kerapu macan hal ini dimungkinkan karena secara genetik memang lambat tumbuh.

Kerapu termasuk ikan buas dan memiliki sifat kanibal. Oleh sebab itu kegiatan pemilahan atau penyeragaman ukuran harus secara rutin dilakukan agar setiap waring/jaring hanya diisi ikan yang berukuran sama, bila ada perbedaan ukuran maka ikan yang lebih kecil akan kalah bersaing dengan ikan yang lebih besar dalam memperoleh makanan, hal ini bisa menyebabkan banyak kematian. Penyeragaman ukuran dilakukan mulai dari awal pembesaran dan selanjutnya diteruskan minimal setiap dua minggu sekali, terutama kalau terdapat variasi ukuran.

Pengamatan kesehatan ikan perlu dilakukan secara visual dan organoleptik untuk mengamati ektoparasit dan morfologi ikan. Sedangkan pengamatan secara mikroskopik dilakukan di laboratorium untuk pemeriksaan jasad patogen (endo perasit, jamur, bakteri dan virus). Cara pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, amonium sulfat, nitrit, nitrat, chlorin, dsb) dilakukan dengan menggunakan termometer untuk suhu, refractometer untuk mengukur salinitas, pH meter atau kertas lakmus untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut dan water quality test kit untuk mengukur kualitas air lainnya disesuaikan dengan petunjuk kerja dari masing-masing alat yang digunakan. Frekuensi pengukuran dilakukan minimal dua kali seminggu.